Skip to content

Suka cita yang menyedihkan di hari raya

Hari raya idhul fitri atau yang saat ini lebih nge-tren disebut dengan kata lebaran, sebenarnya bukanlah hari yang saya nantikan atau saya dambakan, bahkan lebaran tersebut sebenarnya adalah hari yang sangat menyedihkan bagi saya. Bayangkan saja, bulan ramadhan bulan yang penuh berkah harus segera pergi dari kita setelah lebaran itu tiba. Dan mau tidak mau hal itu pasti terjadi dan harus dilalui dengan suka cita. Suka cita karena kita telah menang dalam perang menahan hawa nafsu selama sebulan (menurut kita), suka cita karena kembalinya kita seperti bayi lagi sesuai janji Allah (mungkin. Red: mungkin kita memang kembali seperti bayi, tetapi mungkin kita malah banyak dosa karena menyia-nyiakan ramadhan). Suka cita karena berkumpulnya kita dengan sanak saudara, dan suka cita suka cita lainnya yang sebenarnya tidak sebanding dengan kita meninggalkannya bulan ramadhan yang belum tentu bisa lagi kita temukan di tahun yang akan datang.

Lebaran oh lebaran…. Bingung saya dibuatnya, disatu sisi saya benar-benar sangat sedih menyambutnya dikarenakan kesalahan saya sendiri yang tidak dengan sungguh-sungguh memanfaatkan tiga puluh hari sebelumnya. Hari yang hati ini berkata sangat menyakitkan dikarenakan harus menyambut kemenangan dengan kekalahan yang sebenarnya. Tetapi disisi lainnya saya harus dituntut untuk bersuka cita karena memang seharusnya lebaran adalah hari yang bahagia.

Kesedihan dalam suka cita menyambut lebaran, begitu mungkin yang saya menyebutnya. Dan itu semua terjadi karena kesalahan, kelalaian, kesombongan, keangkuhan dan semua hal yang sudah merugikan saya yang semua terjadi karena memang keimanan saya yang sangat menyedihkan. Kesempatan yang diberikan Allah benar-benar telah saya sia-siakan.

Haruskah saya bahagia disaat hati ini menangis? Haruskah saya berpura-pura “menang” jika sebenarnya saya “kalah” telak? Ampuni saya ya Allah, ampuni “kemunafikan” yang saya lakukan. Akankah lebaran yang sebenarnya bisa saya dapatkan? Akankah lebaran tanpa kemunafikan bisa saya rasakan? Akankah “kemenangan” yang sesungguhnya bisa saya menangkan? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terucap dalam benak saya, dan jawabanya adalah “jika Allah masih memberi kesempatan kepada saya pada lebaran yang akan datang insya Allah saya pasti bisa mendapatkan kemenangan itu, tentunya dengan syarat saya harus memulai apa yang harusnya saya lakukan untuk mendapatkannya. Dan itu harus dimulai dari detik ini dan seterusnya tentunya dengan campur tangan Allah karena itu semua tidak akan pernah terjadi tanpa campur tangan NYA”. Allah maha segala-galanya, DIA yang mempunyai dunia dan seisinya, dan tentunya “lebaran” yang sesungguhnyapun adalah milik DIA. Hanya dengan mendekati-NYA kita akan mendapatkan lebaran sejati itu, hanya dengan meminta pada-NYA kita bisa merasakan lebaran yang sebenarnya. Jadi tunggu apalagi?? Bukankah jika kita mendekati Allah, DIA akan lebih mendekati kita? Bukankah jika kita meminta sama Allah, DIA akan mengabulkannya? Bagi para pembaca yang merasakan hal yang sama dengan saya, mari kita sama-sama mendekatkan diri ke Allah dan meminta pada-NYA supaya kita bisa merasakan lebaran yang sebenarnya ditahun-tahun mendatang. Semoga kita tergolong orang-orang yang berfikir dan beruntung. Amin.. Ya Allah, hanya kepada-Mulah kami berdo’a, hanya kepada-Mulah kami meminta, hanya kepada-Mulah kami berserah diri.

Ampuni kami ya Rabb, ampuni kami atas kelalaian kami menyia-nyiakan waktu yang telah ENGKAU berikan, ampuni kami yang selama ini jauh dari-Mu. Tingkatkanlah iman kami yang semakin lama justru semakin menipis ya Allah. Dekatkanlah kami dengan-MU ya Rabb. Kami mohon Allah, beri kami kesempatan untuk merasakan lebaran yang sesungguhnya ditahun-tahun mendatang. Jadikanlah kami menjadi lebih baik dari hari ini dan selalu memperbaiki diri.

Tulisan ini dibuat untuk memeriahkan acara lomba blog pesona muslim

Yuk Kita koreksi diri sendiri.!!!!!!!

Seperti judul tulisan ini, saya ingin menghimbau kepada diri saya sendiri dan bagi yang membacanya untuk selalu koreksi diri, mari kita cari dulu kesalahan-kesalahan kita baru berlanjut ke kesalahan-kesalahan orang lain. Tapi saya yakin jika kita mau jujur dan benar-benar mau koreksi diri kita, tentunya kita akan malu untuk koreksi kesalahan-kesalahan orang lain karena gimana kita mau mengadili orang lain sedangkan diri kita sendiri aza masih jauh dari kebenaran. “munafik” begitulah kata yang tepat ditujukan untuk “manusia” (termasuk diri saya). Bisanya dan sukanya adalah mencari kesalahan-kesalahan orang lain, bisanya mengomentari apa yang dilakukan orang lain tanpa mau mencari kesalahan-kesalahn diri, bahkan kadang sudah tau salah masih tidak mau mengakui atau tidak mau tau malah.

Mudah-mudahan kata “munafik” yang terpatri untuk sebutan manusia itu bisa sedikit demi sedikit kita hilangkan dengan tidak salingnya kita mencari kesalahan sesamanya. Kalau perlu kita yang Tanya kepada orang lain dimana kesalahan kita untuk mengoreksi diri kita. Saya yakin itu belum banyak terjadi atau bahkan mungkin belum ada. Kebanyakan manusia sibuk dengan mencari kesalahan orang lain dan kemudian membuat vonis apakah orang itu baik atau tidak tanpa melihat  sisi lain orang yang dinilai. Dan selalu menganggap dirinya benar tanpa melihat sisi dirinya yang salah. Apakah itu adil? Apakah itu wajar? Sangat adil dan sangat wajar bagi yang menilai, tapi bagi yang divonis…. Hiks….hiks…. kasian sekali, kadang kalau kita sudah divonis “tidak baik”, maka kita merasa seperti tidak ada kesempatan untuk membenahi diri. Dan orang yang memvonis kita “tidak baik” juga tidak akan sedikitpun memberi kesempatan buat kita membenahi diri karena kita sudah dianggap “tidak baik”.

Sekali lagi saya himbau (termasuk kepada diri saya sendiri), mari kita temukan dulu kesalahan-kesalahan kita sebelum mencari kesalahan orang lain, mari kita vonis dan kita nilai dulu gimana diri kita sebelum kita menilai dan menvonis orang lain…. Mari kita bersibuk ria mencari dan memperbaiki kesalahan kita dan saya yakin seyakin-yakinnya jika kita bersibuk ria mencari dan memperbaiki kesalahan kita, maka sampai kapanpun kita tidak akan disibukkan dengan kesalahan orang lain karena kita tidak akan pernah selesai mencari dan memperbaiki kesalahan kita.

Ya Allah jadikan kami manusia yang bisa keluar dari belenggu “kemunafikan”.  Bimbing kami untuk tidak mengoreksi orang lain sebelum diri ini terkoreksi ya Rabb. Jadikan kami manusia yang jujur dan tidak pernah membohongi diri sendiri apalagi orang lain. kepadaMulah kami berserah ya Allah, kepadaMulah kami bermohon karena tanpa kehendakMu kami tidak bisa berbuat apa-apa.

Proses atau hasil (2)

Alhamdulillah, pertanyaan tentang proses dan hasil akhirnya bisa juga terjawab setelah lama saya mencoba mencari jawabanya dan dibantu dengan komentar-komentar teman-teman blogger di proses atau hasil (1). Pada tulisan proses atau hasil yang pertama belum bisa memuaskan sama sekali, saya masih belum puas dengan tulisan saya, dan sekarang tulisan ini menindak lanjuti tulisan pertama. (ceile, menindaklanjutilah.hehehe). baru malam tadi saya dapat kata-kata yang bisa menjawab apakah proses atau hasil yang harus saya, kita, (manusia) kejar dan cari. Saya tetap pada pendirian saya kalau memanglah proses yang harus kita nomersatukan, proseslah yang harus kita banggakan, bukan hasil, seperti pada tulisan pertama, buat apa nilai tinggi kalau ternyata “nol puthul”. Mending nilai pas-pasan tapi otak “lumayan” betul tidak???

Buat apa juga hasil yang sempurna, hasil gemilang penuh penghargaan tapi dimata manusia, buat apa kita berbangga diri dengan hasil yang sangat sempurna tetapi dengan proses yang tidak diridhoi Allah? Tau ga, yang Allah nilai tu ternyata bukan hasil kita, tetapi proses yang kita lakukan. Allah ga pernah mau tahu tentang berapa banyak kita punya harta, tetapi Allah Cuma menilai bagaimana kita mendapatkan harta tersebut dan kemana kita mengeluarkan harta tersebut, Allah tidak pernah mau tau tentang berapa nilai kita dihadapan manusia, tetapi Allah hanya menilai gimana kita mendapatkan nilai itu. Allah tidak pernah mau tau tentang kerjaan kita, tetapi Allah Cuma menilai bagaimana kita bekerja dan bagaimana kita mendapatkan kerjaan tersbut. Sama sekali Allah tidak mau tau tentang apa yang kita hasilkan dari hidup ini, tapi Allah hanya mau tau tentang bagaimana hasil yang kita dapatkan itu kita peroleh. So???? Buat apa kita mengharapkan hasil yang sempurna jika sunatullahnya kita tinggalkan, buat apa kita mengejar hasil??? Biarlah hasil Allah yang tentukan, Biarlah hasil mengikuti proses yang kita lakukan, mari kita belajar dan berusaha selalu untuk membersihkan proses-proses yang kita lakukan dalam hidup, mari kita melakukan seperti yang Allah mau, kita tidak usah lagi memikirkan hasil yang akan kita dapatkan, yang penting mari kita melaksanakan proses yang sesuai dengan syar’i. tidak mungkin kita tetap lapar setelah kita makan, tidak mungkin kita haus setelah kita minum, tidak mungkin kita ngantuk setelah tidur dan tidak mungkin kita bisa dapatkan hal yang tidak sesuai dengan yang Allah mau jika kita ikuti sunatullah-Nya dan kita berusaha dengan cara-cara luar biasa sesuai kemampuan kita untuk mencapai ridho Allah. Biarlah hasil mengikuti, yang penting proses kita lakukan sebaik mungkin.

Jika kita selalu memikirkan hasil tanpa peduli prosesnya, misalkan yang penting kita dapat kerja walaupun caranya dengan “nembak” maka seumur hidup kita akan sangat merugi. Karena Allah tidak akan ridho dengan proses yang kita lakukan bukankah itu sama saja membunuh diri kita sendiri? Bukankah hidup yang sebenarnya adalah hidup setelah mati???

Proses yang diridhoi Allah yang harus kita kejar dan kita cari baik yang instan maupun yang lambat. Dan jika ingin proses instan tetapi tetap dalam ridho Allah cara yang tepat dilakukan adalah “ajak Allah” dalam setiap proses yang kita lakukan.

Terima kasih sekali lagi saya ucapkan buat teman-teman yang sudah mau menyumbangkan ilmunya untuk ikut ditulis pada postingan kali ini

Rabb beri petunjuk pada hamba untuk selalu sholat dan sabar, tawakal dan istiqamah dalam semua proses hidup yang saya jalani. Jadikan hidup setelah mati hamba dalam golongan orang-orang yang beriman. Jadikan sabar dan syukur pada hamba dalam menyikapi hasil yang Engkau berikan. Amin

Proses atau hasil (1)

Sebenarnya yang dicari manusia dalam hidup ini proses atau hasil sich? Banyak orang berbondong-bondong menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, padahal kadang seperti tidak bisa dibanggakan sama sekali, walaupun kelihatanya berhasil, tetapi sedikitpun tidak punya rasa bangga dengan apa yang didapatkannya, proses yang instan, sekarang lagi digemari kebanyakan manusia yang ada. Mereka sama sekali tidak mementingkan bagaimana “itu” terjadi, tetapi yang dipikirkan adalah hasilnya harus sesuai dengan keinginan mereka. Saya kadang juga bingung dengan kata “proses” dan “hasil”. Saya banyak melihat dan merasakan, ketika orang berusaha menjalankan sunatullah (proses yang sesuai jalur) yang ada tanpa harus mencari jalan “instan”, kebanyakan orang-orang itu justru akan mengalami banyak sekali hambatan, dan malah seperti jalan ditempat dan akhirnya hasilnya sangat tidak memuaskan, beda dengan orang-orang yang mengambil jalan “cepat”, biasanya halangan dan rintangan serta resiko yang dihadapinya justru menjauh dan hasilnya tentu seperti apa yang diharapkan. So???? Bukankah jika ingin hasil yang memuaskan kita harus melalui proses yang luar biasa dulu? Bukankah jika prosesnya sudah sesuai hasil pasti akan sangat memuaskan? Tapi kenapa justru sebaliknya? Justru banyak orang putus asa karena proses yang benar… dimana letak kesalahannya? Kenapa justru yang mengambil jalan “instan” yang berhasil? Bukankah itu suatu keanehan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, tentunya sangatlah tidak mudah, tetapi sebenarnya semua akan terjawab dengan sendirinya jika kita ikuti sunatullah yang ada. Dan saya sendiri, yang dari dulu lebih mementingkan proses pun kadang hampir putus asa,tetapi setelah saya mau berfikir dan menelaah serta mempelajari setiap kejadian yang terjadi pada diri saya, saya akhirnya benar-benar tau dan sangat yakin, jika proses yang sesuai jalur, akan lebih menghasilkan “hasil” yang sangat memuaskan, akan sangat jauh berbeda dengan proses yang “instan”. Memang sich, kdang semua tidak seperti yang kita harapkan, tetapi, Allah maha tahu dengan apa yang kita butuhkan. Yang menurut kita sangat baik, justru kadang itu sangat tidak baik buat kita. Begitu juga sebaliknya.

Jika kita ingin menelaah beberapa contoh berikut, mungkin akan sedikit paham apa yang sebenarnya kita cari. “kita lebih baik bisa tetapi punya nilai rendah, atau lebih baik nilai tinggi tetapi tidak bisa?”, “lebih memuaskan mana karya yang kita buat sendiri dengan karya orang lain yang kita beli (menurut kita)”, “lebih pilih mana lulus dengan nilai “A” tetapi tidak mempunyai SDM yang sesuai, atau lulus dengan nilai “B” tetapi mempunyai SDM lebih dari sesuai (bahkan melebihi nilai A)?” “lebih bangga mana kaya dengan menjual tanah warisan, atau kaya dengan bekerja sendiri?” “lebih pilih mana, kerja sebagai petani tetapi berkah, atau sebagai PNS tetapi hasil “suap”?

Saya akan melanjutkan ini setelah saya punya pikiran yang pas untuk menjelaskan tentang proses atau hasil, saya rasa tulisan saya di atas belum bisa dijadikan acuan ataupun referensi untuk mengerti. Saya juga masih bingung menuliskan apa yang ada dipikiran saya, bolak balik saya baca tulisn ini, tidak bisa juga menjabarkannya. Yang pasti cari dan jalankan dulu proses yang ada, biarlah hasil yang mengikutinya, berhasil atau tidaknya, yang penting adalah prosesnya…

catatan TRI

Ah Cuma Mimpi

Sangat senang sudah hati saya ketika saya mencium tangan mertua saya dan menyatakan melamar “Zahra” dengan nada yang gugup dan hati berdebar-debar, saat itu semua keringat dingin saya keluar, bahkan saya menangis saat meminta “Zahra” dari “bapak”. Detik-detik jawabanpun akhirnya tiba dan saya “diterima” menjadi menantunya, lalu saya mencium tangan ibu dan ada seorang perempuan yang waktu itu saya masih mengira-ngira apakah itu mbak “iko” atau ibu “aisy”. Dalam pikiran saya waktu itu bahwa perempuan itu adalah ibu “aisy” saya cium tangannya dan menangis disana ketika saya minta maaf sama dia. Dan akhirnya sayapun bisa mendapatkan “Zahra” dengan do’a, restu, dan ridho dari semuanya. Saya dan “Zahra” kemudian merayakan “bulan madu” kami disebuah hotel yang sederhana. Tapi “bulan madu” kami tidak selancar yang kami rencanakan karena saat saya sudah sampai dikamar hotel, ternyata “Zahra” tidak langsng ikut masuk, malah pergi ga tau kemana. Saya bingung saat itu, bukankah saat itu adalah saat-saat yang udah bertahun-tahun kami tunggu, lalu kenapa dia malah pergi? Begitu pikir saya.

Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Zahra akhirnya datang juga setelah lama saya menunggu, ketika saya Tanya kenapa dia pergi, dia menjawab dengan menangis kalau dia tidak mau menyakiti perempuan yang hadir saat saya meminta “Zahra” dari “bapak” yang ternyata adalah mbak “iko”. Sayapun ikut sedih, apalagi ketika saya lihat Zahra menangis begitu hebat didepan saya. Dan terbayang juga wajah mbak “iko” waktu itu. belum sempat saya menyelesaikan masalah saya saat itu, tiba-tiba kaki saya sakit sekali dan…………….. ach ternyata saya Cuma mimpi, sakit kaki saya dikarenakan digigit nyamuk. Astagfirullah…….. mimpi yang saya sangat bingung untuk menyikapinya…

Ya Allah saya memohon jadikan kenyataan mimpi saya untuk menikah dengan “Zahra”, tetapi saya sangat memohon lagi, selain do’a, restu dan ridho dari semuanya, saya ingin mbak “iko” sudah menikah dulu, atau paling tidak kami bisa sama-sama menikah, mbak “iko” dengan pasangannya, dan saya dengan “Zahra” saya mohon ya Allah, bahagiakan kami semuanya. Bukannya saya mengingkari kebahagiaan dan kenikmatan yang Engkau berikan saat ini ya Allah, saya sangat bersyukur dengan rahmat dan karunia yang Engkau berikan sampai saat ini dan seterusnya. Tapi saya tidak ingin melihat derita ataupun kesedihan terjadi pada orang-orang yang saya dan “Zahra” sayang ketika kami sedang bahagia. I Love Allah, I Love My Mother, I Love “Zahra”, I Love Our Family (Zahra and my family).

Mimpi oh mimpi…… semoga jadi kenyataan dengan scenario yang Allah rubah sedikit demi kebahagiaan kami semua. Kami manusia hanya bisa memohon pada-Mu ya Allah, kami hanya bisa berencana dan berusaha, Engkaulah penentu segalanya. Kami serahkan semua-muanya pada-Mu ya Rabb….. kami pasrahkan semuanya pada-MU.

tulisan ini saya tulis pada tanggal 14 Februari 2010.

Allah Maha Segalanya, “Siapapun yang minta pada KU, AKU akan mengabulkannya” begitulah kata Allah. dan saya yakin seyakin-yakinnya janji Allah adalah nyata.

saya minta sama Allah agar mimpi saya menjadi kenyataan dengan sekenario yang Allah rubah sedikit untuk kebahagiaan bersama, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun Allah benar-benar mengabulkannya.  Insya Allah habis lebaran ini, tepatnya tanggal 17 September 2010 kami menikah. dan kami disini adalah saya dan zahra serta “mbak iko dan pasangannya”. tepat seperti doa saya dalam tulisan yang saya buat beberapa bulan yang lalu. subhanallah….

tauhid adalah keyakinan, mari kita yakin pertolongan Allah pasti akan datang, mari kita yakin ketetapan Allah itu pasti yang terbaik, mari kita yakin bahwa tiada daya dan upaya tanpa kehendak Allah. bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-NYA?

Waktu Dhuha (ba’da sholat dhuha)

Hari ini saya masuk ngajar Cuma sebentar, setelah istirahat sayapun pulang kerumah yang memang masih dilingkungan sekolah. Alhamdulillah,saya masih bisa ber”dhuha” ria dan belajar bercengkerama dengan Allah, waqi’ahpun selesei saya baca, dan memohon sama Allah agar saya dan “Zahra” bisa secepat mungkin disatukan dalam cinta, keluarga dan semuanya. Nikmat Allah memang tidak akan pernah habis, mungkin dari awal disini yang saya bicarakan adalah tentang nikmat, nikmat dan nikmat terus. Tapi memang itulah yang saya rasakan, saya aza yang baru sadar dengan nikmat yang ada, saya aza yang baru bisa mensyukuri semua nikmat yang ada, dan yang lebih parahnya saya baru-baru aja menikmati nikmat yang ada.. konyol… menyedihkan…..

Sepinya desa, segarnya alam, panasnya mentari, dan semua-mua yang ada disini adalah tidak terkira indahnya karunia Allah yang diberikan kepada saya. Jadi kenapa semua harus diratapi??? Sedangkan semua ini bisa dinikmati. Lho….. koq malah ngelantur kemana-mana sich??? Kita kan lagi bahas ba’da dhuha ini tadi……..  emmmm… apa ya tadi yang mau saya tulis? Ba’da dhuha, sebenarnya adalah waktu yang tepat buat kita bercengkerama sama Allah, karena disaat itu sama juga seperti waktu sepertiga malam, jarang manusia yang meminta, benar tidak?? Kalau malam banyak manusia mengistirahatan diri mereka karena habis bekerja seharian, begitupun waktu dhuha, manusia hanya sedikit saja yang melaksanakan dhuha dan meminta kepada Allah karena mereka disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka. Nach, saat itukan jarang manusia meminta sama Allah, kenapa tidak kita jadikan kesempatan aza waktu itu untuk  mendekati Allah dan meminta sama Allah jika malamnya kita tidak sanggup ber”qiyamulail” ria, kalau malamnya kita sanggup, kan lebih bagus lagi tuch jika ditambah dan disempurnakan dengan ber “dhuha”. Nikmat apalagi yang saya dustakan??? Dalam keadaan saya sedang bekerjapun saya masih punya waktu untuk ber”dhuha” ria. Terimakasih ya Allah…… thanks God..

Ternyata Allah sama sekali tidak pernah memberatkan hambaNYA…. jika pada malam hari manusia tidak sanggup ber”cengkerama” dengan-NYA, maka diberi juga waktu di siang hari. Kalau memang masih tidak sanggup lagi mengerjakannya, ya diberi kesempatan yang “wajib” 5-10 menit bercengkerama bersamana-NYA. Nach jika yang “wajib” juga masih diabaikannya karena mencari dunia…. Allahu Akbar…. Semoga itu tidak terjadi kepada saya dan keluarga saya, teman-teman saya atau siapapun yang saya kenal (minimal), dan jika itu memang terjadi pada saya, keluarga, teman-teman saya atau siapapun juga yang merasa “Islam” saya mohon ya Allah, sadarkan kami, jadikan kami semua ringan tangan dalam mendekati-MU dan mencari ridho-MU, jadikan kami selalu siap untuk beribadah kepada-MU dan selalu siap kapan saja dengan bekal yang lebih dari cukup jika suatu saat ENGKAU “mengambil” kami, amin Allahuma amin

ini adalah tulisan saya beberapa bulan yang lalu.

Kapan lagi kita bersyukur

Sebenarnya malu saya mulai menulis ini, karena banyak nikmat yang Allah berikan yang saya abaikan, saya sangat jarang menyadari apalagi mensyukuri apa yang sudah Allah berikan, yang ada malah selalu mengeluh padahal kadang yang saya keluhkan adalah yang terbaik buat saya. Manusia….manusia…. diberi panas minta hujan, diberi hujan minta panas, diberi nikmat masih mengeluh.. apalagi diberi musibah? saat saya menulis inipun saya baru saja mengeluhkan kenapa saya koq terlunta-lunta begini, saya tidak mensyukuri nikmat hidup, nikmat sehat yang Allah berikan sampai detik ini. Maafin kekhilafan hamba yang terus menerus ini ya Allah.

Jika kita mau menyadari dan berikir sedikit saja, harusnya kita sangat malu sama Allah yang maha memberi. Allah memberi apa yang tidak kita minta, apalagi yang kita minta? Tentunya Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan. Dan yang pasti Allah memberi kepada hambaNya yang pantas diberi. Kita tidak meminta tangan tapi Allah beri, kita tidak meminta mulut, tapi Allah kasih dll, semua Allah beri karena Allah maha tau kita butuh semua itu. Masih pantaskah kita minta diberi kenikmatan-kenikmatan yang lain sedangkan kenikmatan yang ada tidak kita syukuri? Masih pantaskah kita memohon kenikmatan-kenikmatan yang lain sedangkan kita malah menyalahgunakan kenikmatan yang ada?? Seberapa sering kita justru bermaksiat dengan fasilitas yang Allah berikan? Kita berjudi dengan tangan, mata, kaki, tubuh dll, bahkan uang yang semuanya itu dari Allah. Kita berdisko ria dan bermabuk-mabukan dengan fasilitas dari Allah. Dan bahkan ada yang masih mengeluh dan berkata “ya Allah kenapa aku kalah terus?” “Ya Allah kenapa kartuku jelek terus?” ga malukah kita?????????

Mari kita tela’ah, kita renungkan, kita berfikir, seberapa beruntungnya kita. Kita yang bergelimang dosa masih Allah beri kenikmatan yang harusnya kita tidak pantas menerimanya. Kita yang tidak pernah melakukan apa-apa buat Allah, tapi Allah masih berikan rahmatNya kepada kita. Kapan lagi kita harus bersyukur kalau tidak mulai detik ini???  Allah yang tiap detik sibuk mendengarkan doa kita, mengabulkan doa kita, memberi apa yang kita butuhkan, tapi kita tidak sedikitpun tau diri untuk berterimakasih padaNya. Untuk berkata “alhamdulillahirrabbil’alamin” saja berat sekali, apalagi melakukan tindakan-tindakan yang Allah sukai sebagai tanda rasa syukur kita. Ampuni kami ya Rabb…

Padahal janji Allah sudah pasti dalam firmanNya  ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ (QS:Ibrahim (14) :7 ). Terus, nunggu kapan lagi kita harus bersyukur????

Rabb… bimbing kami agar selalu mensyukuri nikmat yang Engkau berikan, jauhkan kami dari kekufuran, jadikan kami orang-orang yang pantas Engkau beri, karena tanpaMu kami takkan bisa berbuat apa-apa. Ampuni kami yang selama ini sombong ya Allah, kami yang merasa apa yang kami miliki adalah hasil jerih payah kami sendiri, ampuni kami yang selama ini selalu mengeluh tanpa sedikitpun mensyukuri nikmat yang sudah Engkau berikan.