Skip to content

Pasang Surut (2)

31 Agustus 2010

Akhirnya terjawab juga pertanyaan hati ini “mengapa saya begini?”. Akhirnya sedikit demi sedikit terkuak juga kenapa diri ini pasang surut dalam ibadah dan kebaikan. Kenapa???? Memang begitulah manusia, karena manusia adalah makhluk diantara malaikat dan syetan. Jika nafsu yang lebih dominan maka manusia akan bisa lebih buruk dari syetan, tapi kalau akal yang dominan maka manusia akan jauh lebih mulya dari malaikat. Truz mana nich jawaban dari pasang surutnya ibadah dan kebaikan saya??? Iman kita sama seperti pisau, akal kita sama seperti pedang, nafsu kita juga sama seperti halilintar. Iman dan akal kita akan tumpul jika kita gunakan terus dan tidak kita asah, iman kita pasti akan menurun jika kita tidak asah, untuk istiqomah kita juga perlu orang lain untuk mendukung, untuk selalu langgeng dan meningkatkan kebaikan kita tidak bisa sendirian, semua perlu media pendukung. Karena lawan beratnya adalah nafsu yang secepat dan sehebat halilintar bisa menyusup sewaktu-waktu.

Secara pribadi, keadaan lingkungan mungkin tidak akan menjadi masalah dalam pasang surutnya iman dan ibadah, tetapi tidak bisa dipungkiri lingkungan sangat-sangat  mempengaruhi itu semua. Tidakkah jika kita berada di lingkungan ahli ibadah kita pasti minimal akan ikut juga menjadi ahli ibadah, bukankah jika kita berteman dengan penjual parfum kita akan “kecipratan” wanginya? Bukankah Rasul kita juga menghimbau kepada kita untuk berteman dan berkumpul dengan orang-orang shaleh? So, gimana tidak “surut” apa yang saya lakukan jika setiap hari, bahkan setiap detik saya bergaul dengan orang-orang yang non muslim, gimana tidak “surut” jika saya hanya bisa bergelut dengan mereka-mereka yang sama sekali tidak bisa mengasah iman saya? Bagaimana iman saya bisa “pasang”? bagaimana semua bisa meningkat? Sedangkan jangankan untuk konsultasi dan menambah ilmu dari orang-orang yang sholeh, sedangkan untuk mendengarkan suara adzan saja tidak bisa terjadi. Tetapi itu semua bukan hal utamanya, karena jika pondasi saya kokoh, minimal walaupun tidak “pasang” pasti tidak akan “surut”. Sedangkan ilmu agama saya, tingkat keimanan saya ibarat bayi yang masih dalam masa pertumbuhan, masih perlu dibimbing, masih perlu dijaga, masih perlu suplemen-suplemen yang bergizi. So, hanya karena Allahlah saya masih bisa bertahan dengan semuanya, walaupun pasang surut tetap berjalan. Maafin hamba Allah.

“iman itu bisa pasang dan bisa surut, dan untuk menanggulangi surutnya iman adalah dengan cara berkonsultasi dan berkumpul dengan saudara seiman”. Makanya Rasulullah berpesan untuk memilih teman, karena teman yang salah tidak hanya akan menyurutkan iman, tetapi juga bisa membalikkan iman. Bagi yang merasa lagi “surut” seperti saya, percepatlah mencari “batu asah” untuk mempertajamnya, jangan sampai telat. Bagi yang merasa “menurun” kadar imannya seperti saya, carilah “suplemen-suplemen” yang bisa menyegarkan. Jika memang keadaan tidak memungkinkan untuk mencari batu asah dan suplemen, maka Cuma tawakallah yang bisa kita lakukan, Allah pasti punya maksud sendiri dalam hal ini. Cuma dengan rahmat Allahlah semua bisa kita pertahankan. Cuma kepada Allahlah kita serahkan dan pasrahkan semuanya.

From → renungan

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: