Skip to content

Pasang Surut (1)

31 Agustus 2010

Sekali lagi jika kita bicara tentang manusia hanya beban hiduplah yang selalu dibicarakan, yang selalu dibahas adalah kenapa aku begini, kenapa ini terjadi padaku, dan lain-lain, jarang sekali manusia membahas kelebihannya, nikmatnya, dan lain sebagainya yang terkait. Kali ini tulisan ini juga akan mem bahas sebuah pertanyaan “kenapa aku begini?” kata “aku” disini adalah saya sendiri khususnya, dan buat siapa saja yang merasakan hal yang sama dengan saya. “kenapa aku begini?”, lama saya termenung ketika hati saya berkata begitu, pikiran ini bekerja keras untuk menjawabnya, kenapa ya saya bisa begini? Saya hanya berbicara, saya hanya bisa menghimbau kepada semua, tetapi untuk menghimbau diri sendiri saja saya belum bisa, saya menginginkan semua orang bisa hidup untuk Allah, saya mengajak semua orang untuk “istiqomah” dalam ibadah dan kebaikan, tetapi apa yang tetapi apa yang terjadi pada diri saya sendiri? Ibadah yang saya lakukan, kebaikan yang saya lakukan, tidak bisa langgeng dan terus meningkat. Kadang ada kalanya “pasang” gencar sekali melakukannya tanpa menoleh kebelakang, tapi ada kalanya sangat “surut” melaksanakan yang sangat “sepele” aza terasa berat sekali. Ada apa dengan diri saya?? Saya sama sekali tidak menyalahkan syetan dalam hal ini, karena tugas syetan memanglah menggoda manusia, saya heran sama diri saya, saya pernah membahas tentang “munafik” tapi, bukankah yang terjadi pada saya juga salah satu cirri dari kata “munafik” tersebut? Saya malu pada diri saya, saya malu sama yang menciptakan saya. Kenapa begitu mudahnya saya dikalahkan oleh bujuk dan rayuan “syetan”?

Saya bingung dengan diri saya, kenapa saya begini? Kenapa saya justru melawan dan memberontak dengan apa yang saya omongkan sendiri. Allah, bimbing saya, jangan buat saya lama-lama dalam kesurutan, beri kekuatan iman pada diri saya agar selalu dan selalu mendekat kepada-Mu, jauhkan hamba dari kedzaliman dan kemaksiatan, jadikan hamba sebagai orang yang berfikir, saya tahu Allah saya memang berada ditengah-tengah orang yang berbuat dzolim dan maksiat, tetapi saya mohon jauhkan hamba dari kedzoliman dan kemaksiatannya, jauhkan hamba dari dosa dan melihat dosa, ampuni hamba yang tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat kemaksiatan.

Maaf ya Allah, Ampun ya Rabb, bukannya saya tidak bersyukur, tetapi kepada siapa lagi saya mengeluh selain kepada-Mu, saya tidak mau lama-lama begini, saya pengen selalu “pasang” dalam ibadah dan kebaikan, jauhkan rasa “surut” ibadah dan kebaikan dalam diri saya. Rabb, saya ingin semua yang saya lakukan hanyalah untuk-Mu, saya mohon kuatkan iman saya, pertajam ilmu agama saya, beri saya “guru” untuk saya belajar, beri saya kepekaan dalam pikiran saya agar selalu belajar dan dapat mengambil pelajaran dari semua kejadian-kejadian yang saya alami. Allah, kepada siapa lagi hamba memohon dan meminta selain kepada-Mu, Engkaulah Rabb, tempat hamba bersyukur, mengadu dan berkeluh kesah. Hamba bersyukur atas semua rahmat yang Engkau berikan Rabb, hamba mohon beri hamba petunjuk dan beri hamba ilmu supaya saya bisa benar-benar menunjukkan rasa syukur saya, jadi tidak hanya dengan ucapan tetapi juga dengan tingkah laku, saya bisa menunjukkan rasa syukur saya.

From → renungan

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: