Lompat ke isi
17 Agustus 2011

Penempatan Angka vs Penempatan Kehidupan

Untuk menjawab tantangan mas jier dalam tasyakuran dan giveaway, saya mencoba mengerjakan teka-teki angka dengan cara yang berbeda. Yaitu dengan mengurangi satu kolom yang ada, sehingga kolom tersebut menjadi genap (6 x 6) da mengurangi dua kolom menadi 5 x 5 tapi dengan total penjumlahan yang sama yatu 175. Ini akan lebih menantang karena dibutuhkan ketelitian dalam memilih angka. Seperti halnya kita memilih kehidupan mana yang akan kita tempuh.

jika kita hanya melakukan kehidupan ini dengan pola yang biasa-biasa saja, maka hidup kita pasti juga hanya akan biasa-biasa saja. Tapi jika kita bisa menempatkan diri kita pada sesuatu yang luar biasa (tentunya dalam hal kebaikan), maka saya sangat yakin, kehidupan kita akan lebih berwarna dan lebih bercahaya. Berikut adalah dua contoh dari sekian banyak contoh dalam penempatan diri yang menghasilkan sesuatu luar biasa;

“jika kita bersyukur hanya saat kita mendapatkan kebahagiaan, rejeki yang melimpah, kesehatan, dan lain sebagainya yang sejenisnya, maka itu adalah hal yang lumrah dan biasa, tapi jika kita bersyukur saat Allah memberi kita nikmat sakit, nikmat lapar, nikmat sedih dan nikmat kekurangan. Maka saya sangat yakin Allah akan menjadikan kita sebagai insan yang luar biasa”.

“jika kita sedekah saat kita punya kelebihan, atau kita sedekah sesuatu yang sudah tidak kita pakai, maka Allahpun akan membalas sedekah kita dengan yang biasa-biasa saja. Tapi jika kita sedekah saat kita dalam keadaan kurang atau kita sedekah dengan sesuatu yang masih sangat kita cintai, maka saya yakin, Allah akan membalas sedekah kita dengan sesuatu yang sangat luar biasa”.

penampakan tantangan mas jier 6 x 6

dan ini penampakan 5 x 5

Penempatan angka pada tantangan yang diberikan oleh Mas jier ini, adalah gambaran dari penempatan kehidupan yang kita hadapi. Hidup ini adalah pilihan, mau jadi apa kita kedepan, dan bagaimana kehidupan kita dimasa depan, semuanya adalah tergantung pilihan kita. Apakah kita mau melibatkan Allah dengan cara yang luar biasa dalam kehidupan kita, atau kita hanya melibatkan Allah dengan cara yang biasa dalam kehidupan kita, atau bahkan kita tidak mau melibatkan Allah sama sekali dalam kehidupan kita??

Pemilihan dan penempatan angka yang asal-asalan pada tabel yang disediakan, ibarat kita mengarungi kehidupan tanpa pedoman (tidak melaksanakan kewajiban yang Allah berikan), yaitu hanya akan menghasilkan kesia-siaan dan kesalahan (kekalahan). Pemilihan dan Penempatan angka yang tepat sesuai dengan pola yang tersedia ibarat kita mengarungi kehidupan hanya dengan melakukan kewajiban yang Allah berikan dan itu akan membuat kita aman. Pemilihan dan Penempatan angka dengan pola yang menantang ibarat kita mengarungi kehidupan dengan mengerjakan yang wajib dan sunnah yang akan menghasilkan kemenangan.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan semoga bermanfaat
Salam berbagi kebaikan

16 Agustus 2011

Membeli Penyakit dengan Sedekah

Setelah sekian lama pergi dari peradaban blogger, kini saya hadir lagi di bulan yang paling istimewa ini. Ini adalah postingan ketiga setelah puisi cinta untuk pasangan saya yang saya berikan tepat pada ulang tahunnya tanggal 12 juli yang lalu, dan postingan facebook yang saya copy paste dari dinding facebook saya.Di bulan yang penuh berkah ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya tentang “sedekah”.

Banyak keajaiban-keajaiban sedekah yang sudah saya lihat dan rasakan. Sedekah tidak hanya bisa menambah harta kita, tapi dia juga bisa membeli segala masalah kita, dia bisa membeli kesedihan kita dan menggantinya dengan kebahagiaan, dia bisa membeli kegalauan kita dengan ketenangan, dan bahkan Penyakitpun bisa kita beli dengan sedekah.

Dalam kesempatan ini, saya akan membagi salah satu keajaiban sedekah yang saya rasakan diantara banyak sekali kejaiban yang saya rasakan. “membeli penyakit dengan sedekah”. Kisah ini benar-benar terjadi pada diri saya. Waktu itu saya diberi nikmat oleh Allah untuk merasakan sakit perut yang lumayan menyiksa. Berbagai upaya sudah kami lakukan, dokter kami datangi, tukang urutpun kami undang untuk menyembuhkannya. Tapi semuanya nihil, obat demi obat saya lahap tanpa hasil, beberapa kali tukang urutpun menampilkan keahliannya mengurut perut saya yang menghasilkan kesia-siaan juga. Kami bingung, tak tahu lagi apa yang harus kami lakukan.

Dalam kebingungan tersebut, saya baru teringat kesalahan saya. Kesalahan yang dilakukan hampir sebagian besar manusia jika terkena masalah. Lupa sama Allah. Harusnya bukan dokter ataupun tukang urut yang saya datangin pertama ketika saya sakit, seharusnya saya tidak langsung berikhtiar tanpa melibatkan Allah. Ditengah-tengah kesakitan saya, akhirnya saya berdo’a dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan saya tersebut dan meminta Allah memberi petunjuk untuk kesembuhan saya.

Dalam waktu beberapa menit setelah saya berdo’a, saya diingatkan oleh salah satu tausiah seorang ustadz terkenal (ustadz yusuf Mansur) yang mengatakan “sedekah bisa menyembuhkan penyakit”. Kata beliau, Rasulullahpun pernah menyuruh kita membeli penyakit dengan sedekah. Dan saat itupun saya berniat untuk bersedekah Rp.100.000,- pada keesokan harinya. Karena waktu itu malam hari jadi saya berniat untuk bersedekah keesokan harinya. Setelah saya berniat tersebut, saya berdo’a kepada Allah meminta penyakit saya diangkat dari tubuh saya, dan ajaibnya, dalam waktu kurang dari 5 menit setelah saya beniat sedekah dan berdo’a, penyakit perut sayapun lenyap sampai sekarang. Subhanallah, walhamdulillah, wallahuakbar.

Mari kita datangin Allah dulu di setiap masalah kita, jangan tunggu kita mentok (putus asa dengan ikhtiar) baru mendatangi Allah. Selama ini paradigma yang kita pakai adalah kita berusaha semaksimal mungkin dan semampu kita, setelah itu baru kita datangin Allah untuk berserah diri dengan hasil usaha kita. Mari kita ubah paradigma tersebut dengan mendatangin Allah terlebih dahulu sebelum berusaha, dan kemudian baru kita berusaha dengan maksimal (bersama Allah tentunya karena kita sudah mendatangi dan mengajak Allah), setelah itu bersyukur dengan hasil yang diperoleh. (apapun hasilnya pasti yang terbaik buat kita, karena kita berjalan bersama Allah).

Semoga bermanfaat
Salam Berbagi kebaikan

10 Agustus 2011

Postingan Facebook (1)

ini adalah status-status facebook saya yang saya kumpulkan dari beberapa bulan terakhir. semoga bermanfaat!

“masa depan kita dapat kita tentukan dengan apa yang kita lakukan sekarang”

“kita akan bisa mendapatkan apapun yang kita mau, asal kita mau melakukannya bersama Allah. (read: berjalan bersama Allah)”

“orang yang bahagia adalah orang yang bisa membahagiakan orang lain (read: berbagi kebahagiaan)”

“Jika kegagalan itu bisa membuat kita sabar,ikhlas dan semakin dekat dengan Allah, maka kegagalan itu akan lebih baik daripada kesuksesan. (read: kesuksesan yang tidak tersadari)”

“Kadang hidup berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi yakin aza kalau itu adalah yang terbaik bagi kita. (read: bersyukur dalam kegagalan)”

“Akan sangat disayangkan jika hari yang indah ini kita lewati dengan hal-hal yang tidak baik. (read: lewati hari indah dengan hal yang indah juga)”

“Jika kita mau menikmati dan mensyukuri, hal paling menyedihkan dan paling membosankanpun bisa sangat menyenangkan. (read: mengeluh hanya akan menambah penderitaan bukan menyelesaikan masalah)”

“”Jika saya terlahir miskin, itu bukan salah saya. Jika saya mati dalam keadaan miskin, itu baru salah saya”.
Allah memberi kesempatan waktu kepada kita, sama dengan kepada orang lain. Jika orang lain bisa, maka tidak ada kata tidak bisa buat kita.”

“Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk bernafas sampai menulis status ini. Ucapkan kata yang sama bagi yang masih diberi kesempatan membaca status ini, berarti Allah masih menfasilitasi nafas buat anda semua”.

“jika bisa memilih bahagia, kenapa harus bersedih. jika bisa memilih kaya, kenapa harus miskin. sedih-bahagia, miskin-kaya, semua itu adalah pilihan hati. kebahagiaan dan kekayaan bukan diukur oleh harta yang kita punya”.

“Setiap detik yang kita lalui akan kita pertanggung jawabkan suatu saat nanti. Jika ga didunia pasti diakhirat”.

“Ba’da Subuh menunggu dhuha, bukan Al-Qur’an yang dibaca tapi Facebook yang dihadapan kita. Astagfirullahal’adzim”

“Yang membuat kita sedih dan bahagia adalah hati kita, mari kita setting hati kita untuk bisa selalu bahagia apapun kejadiannya (read:bersyukur dalam derita)”

“Berfikir dengan baik, lakukan dengan baik, dan lihat apa yang akan terjadi?”

“Bantulah sesama semampu anda, walaupun anda sendiri lagi membutuhkan bantuan. (read: Meminta bantuan Tuhan dengan membantu sesama)”

“Jalani semua dengan ikhlas dan sabar. Apapun yang terjadi itu kehendak Illahi, tugas kita hanya melakukan dengan maksimal apa yang bisa kita lakukan. So, tetap senyum dan semangat”

“Jika suatu kegiatan (usaha,hubungan,dan lain-lain) diawali dengan DUSTA, maka tunggulah kehancurannya. Mulai semua dengan JUJUR dan kebersihan hati”.

“rezeki ingin mendekat, dekatilah Allah. Rezeki ingin banyak, Perbanyaklah sedekah. Rezeki ingin bertambah, tambahilah amal”

“waktu yang sangat bagus untuk meminta, saat manusia yang lain pada sibuk mencari rejekinya, yaitu waktu dhuha. ber’dhuha’ ria yuk????”

“Mumpung mimpi belum dilarang, yuk mimpi setinggi langit. Dan kita buat mimpi itu jadi kenyataan dengan mulai melangkah dari yang paling dekat dengan kita”.

“Ciptaan Tuhan selalu sempurna, manusialah yang merusaknya. Rezeki dari Tuhan juga selalu sempurna, manusialah yang mau “mengambil”nya atau tidak. Siapa berusaha dia juga yang mendapatkanya”.

“Jadi PNS dan karyawan itu enak tiap bulan dapat gaji, tapi jadi pengusaha itu lebih enak tiap hari dapat gaji”.

“Bersyukur bukan berarti hanya berdiam diri dan ‘pasrah’ dengan apa yang diberikan Tuhan. Bersyukur adalah dengan menggunakan pemberian Tuhan dan berusaha semaksimal mungkin”.

“Kata pepatah: “akhirat yang dituju, dunia mengikuti”.
Saya menambahkan: “masa depan yang dicari, sekarang tercukupi”
jika keduanya bisa didapat, kenapa harus milih salah satu??”

“Mengeluh dan bersedih hanya akan menghabiskan waktu hidup kita yang hanya sementara, isilah dengan bersyukur dan bertindak agar hidup lebih bermakna dan surga balasannya”

“Kata orang: “Jangan tunggu sampai besok apa yang bisa kita lakukan hari ini”.
Kata saya; “Jangan tunggu sampai nanti apa yang bisa kita lakukan sekarang!”

“Menjadi baik itu mudah dan menyenangkan, banyak teman itu menyenangkan dan menguntungkan, jadi pengusaha itu menguntungkan dan mengayakan. Silahkan mencoba!”

“Apa yang kita harapkan dari manusia, kadang bisa sangat mengecewakan. So hanya berharaplah pada yang menciptakan manusia, TUHAN. Karena DIA tidak akan pernah mengecewakan”

“Andai matahari adalah doa dan hujan adalah perjuangan maka kita butuh keduanya untuk menghasilkan indahnya pelangi kehidupan”

8 Agustus 2011

MAAFKU, TERIMA KASIHKU UNTUKMU

Sebenarnya tak ada kata yang pantas mewakili semua ini
Sebenarnya tak ada kiasan yang mampu menandingi semua ini
Puisi ini pun sangat tidak bisa jadi pengganti semua ini
Walau belum dua belas bulan kita menikah
Walau belum dua belas bulan kita hidup bersama
Sungguh….
Aku merasakan perubahan pada diriku
Kau buatku berbeda….
Kau buatku sempurna….
Kau berikan kelebihanmu dengan ikhlasmu .
Kau terima kekuranganku dengan senyummu .
Aku tak tahu harus berbuat apa ,
Aku tak tahu harus bagaimana
Tak ada yang bisa kuberikan kepadamu
Tak ada yang bisa kulakukan untukmu
Selain terima kasih untukmu
Terima kasih dari jiwaku
terima kasih setulus hatiku
terima kasih yang hanya tercipta untukmu .
Satu lagi…….
Maafku untukmu …………
Maafku tak bisa selalu disisimu
Maafku tak bisa selalu menjagamu
Maafku tak selalu ada untukmu
Hanya dua kata itu yang mampu terucap
Maafku dan terima kasihku untukmu

24 September 2010

Semoga ini semua karena-MU

Disela-sela saya mengajarpun saya masih bisa sedikit menulis, bukannya saya menelantarkan anak didik saya, saya juga sudah selesai memberikan apa yang saya bisa kepada mereka. Sekarang mereka juga lagi mengembangkan apa yang saya berikan tadi. Semoga saja semua yang saya lakukan ini adalah semata-mata karena-Mu ya Allah. Walaupun mereka “belum” muslim, mereka juga manusia yang Engkau ciptakan, mereka juga hamba-hamba-MU. Dan saya sangat yakin dengan mengajar mereka insya Allah juga akan menjadi ibadah tersendiri, selain sebagai tanggung jawab pekerjaan dan membahagiakan orang tua. saya sangat yakin jika niat saya benar-benar karena ingin mencari ridho-MU maka apa yang saya lakukan saat ini juga akan mendapat nilai ibadah tersendiri. Bukankah bersosialisasi dengan sesama manusia juga termasuk beribadah? Semua tergantung niat bukan? Semoga ini semua karena-MU ya Rabb…..

Kadang saya sangat menyayangkan dengan keadaan lingkungan tempat saya bekerja ini, Didesa yang masih jauh dari kontaminasi modernisasi ini harus mengalami krisis “religi” (jauh dari rahmat Allah) disini umat muslimya masih bisa dihitung dengan jari, bahkan tidak habis dihitung dengan jari tangan, itu juga mereka sudah terbiasa atau sudah “ngikut” dengan adat istiadat dan kebiasaan penduduk sini yang mayoritas hindu kaharingan. “arak” diminum, daging “haram” disantap, “ibadah” no way. sangat menyedihan bukan?? Ya, di desa seperti inilah saya harus menjalankan tugas saya sebagai seorang “guru”.  Maka dari itu hanya karena kemurahan, kasih sayang, dan karunia Allah lah saya bisa bertahan dengan iman saya. (semoga saya bisa menjadi golongan orang-orang yang beriman, amin).

hari-hari saya di tempat kerja hanya bisa saya lewati dengan bergumul dengan anak-anak setiap hari, tak pernah terdengar indahnya suara kumandang adzan (mungkin inilah cara Allah menyadarkan saya, karena waktu saya setiap saat bisa mendengarkan suara adzan justru saya malah cuek dan tidak menghiraukan suara indah itu, saya lebih disibukkan dengan urusan dunia saya dibanding urusan ibadah). terima kasih Rabb, Engkau telah memberi pelajaran dan membuat saya berfikir untuk selalu mencari pelajaran disetiap kejadian yang saya lakukan.

Ya Allah, tempat kerja hamba adalah ENGKAU yang menentukan, lingkungan kerja yang minoritas mulimnya adalah kehendak-MU juga, perbaiki niat hamba ya Rabb. Luruskan niat hamba agar hanya karena-MU. hamba hanya mengerjakan ketetapan-MU. bimbing hamba agar tetap dijalan-MU. Berilah keikhlasan dan keridhoan kepada hamba dalam menjalani semua ini. Ya Allah.. Kepada-MU lah hamba berserah diri.

23 September 2010

maaf teman-teman

assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

teman-teman pecinta “coret-coret” dan penggemar membaca “coretan-coretan”, saya sebagai salah satu pecinta mencoret dan membaca coretan,  meminta maaf karena baru sekarang saya sempat sedikit mencoret-coret lagi dinding gubuk saya yang sekian lama (sekitar dua mingguan) saya tinggal karenakan saya “menikah”

sekali lagi saya mohon maaf atas keterlambatan balasan-balasan saya dan ketidak adanya postingan-postingan tulisan saya. dan tak lupa, walaupun terlambat saya mengucapkan selamat hari raya idhul fitri, maafin lahir dan batin

wassallam

9 September 2010

Punya Siapa Lebaran ini?

tulisan ini adalah sumbangan tulisan dari kakak saya tercinta “TRI WAHYUNI” yang mencoba mencari arti dan makna Lebaran.

Punya Siapa Lebaran ini?

Allahu Akbar..

Suara takbir menggema menandakan lebaran telah tiba, lebaran adalah hari yang mungkin banyak dirindukan oleh umat muslim didunia Ciptaan Allah. Waktu aku masih kecil, sangat senang bila lebaran tiba, tentu saja karena dibelikan baju baru, banyak makanan, dapat uang dan mungkin banyak hal-hal yang menyenangkan hari itu. Walaupun waktu itu aku tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana susahnya orang tuaku mendapatkan uang untuk beli baju baruku. Dalam benakku “hari lebaran adalah pakai baju baru”. Tak jarang malam lebaran aku baru dibelikan baju baru karena uang yang tidak ada. Dan tak jarang pula sebelum lebaran aku selalu mengeluh pada orang tuaku “kok aku belum dibelikan baju baru sich, tuch teman-temanku sudah semua”. Dan dengan sabar ibu menjawab “sabar.., nanti juga dibelikan”. Untuk keluargaku membeli baju adalah sebuah hal yang istimewa, jadi waktu lebaran saja aku dibelikan, untuk yang lainnya.. banyak yang ngasih baju bekas.

Itu adalah sekelumit cerita lebaran kecilku. Lebaran demi lebaran kujalani dengan tak ada perasaan yang lebih dari sebelum dan sesudahnya. Hingga aku dewasa, sampai saat ini aku selalu berfikir untuk siapa lebaran ini??

Ada kalanya waktu aku berfikir dan merenung aku mendapati jawaban kalau lebaran itu adalah…..

Pengakuan (adalah pengakuan dosa seorang manusia kepada Tuhan (Allah) yang pada hari lebaran itu kita sholat Idhul Fitri untuk meminta ampun kepada-NYA)

Kenangan (disetiap lebaran kita sering bercerita lebaran kemarin aku, kamu, kita begini, begitu dan lain-lain, mungkin lebaran kemarin kita merayakannya dengan orang tua,saudara dan sebagainya dan lebaran ini mungkin tidak)

Angan-angan (aku selalu berangan-angan untuk melakukan yang lebih baik dari hari lebaran kemarin)

Itu yang kurasakan, kumengerti bagaimana lebaran itu. Aku sering mendengar bahwa lebaran adalah hari kemenangan bagi umat muslim, tapi kemenangan dari apa?? Apa dari puasa ramadhan?? Tapi dibalik kemenangan itu adalah kepedihan bagiku…

Pedih karena tidak bisa merasakan kemenangan dari apa yang kita kalahkan

Pedih karena aku sering menyalahkan Tuhan kenapa diriku tidak bisa seperti yang lain. Mereka bisa melakukan dan mendapatkan yang mereka inginkan sewaktu lebaran.

Pedih karena selalu melihat orang tuaku selalu bingung menjelang lebaran

Ya Allah untuk siapa lebaran ini??

Ternyata jawaban yang kudapati tadi adalah salah kalau lebaran itu untuk:

(pengakuan), sebenarnya kita bisa melakukan pengakuan dosa tiap hari, tidak usah menunggu lebaran. Jadi lebih tepat disebut sebagai rasa bersyukur kita pada hari lebaran. Bersyukur karena kita masih diberi umur panjang dan kesempatan untuk bertemu dengan hari lebaran

(kenangan), sebenarnya bukan kenangan atau cerita dari lebaran ke lebaran, tapi yang lebih tepat adalah kebersihan hati kita dengan cara memanfaatkan moment lebaran dengan memohon ampun. Maaf-maafan sesama keluarga, saudara dan yang paling paling penting orang tua kita. Tapi jangan sampai moment itu hanya menjadi kenangan yang habis lebaran bikin dosa lagi, menyakiti hati orang tua lagi, bermasalah dengan saudara, keluarga, dan sesamanya lagi. Jadikanlah kebersihan hati kita dari lebaran ke lebaran berikutnya.

(angan-angan) disini kata yang tepat adalah tujuan hidup kita pada akhir lebaran itu sendiri.  Kalau kita mau tahu dan menyadari bahwa tujuan hidup kita adalah bukan didunia melainkan kehidupan setelah mati nanti, maka kitapun akan memaknai lebaran untuk koreksi diri sampai dimana kita telah mencari dan mencapai ridho Allah. Dan insya Allah kita akan mencapai kemenangan yang sesungguhnya.

Dari kita selalu bersyukur apapun dan bagaimanapun keadaan kita dari lebaran sebelum dan akan datang, kita selalu senantiasa bersihkan hati dalam menghadapi atau dengan siapapun itu dalam kehidupan kita pasti kita akan mencapai kemenangan yang kita rasakan begitu baiknya. Dekatnya Allah dihati kita yang insya Allah akan meridhoi hidup kita didunia dan akhirat yang merupakan tujuan kesempurnaan hidup kita yang sebenarnya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berfikir (amin ya Rabbal alamin)

JADIKANLAH LEBARAN PUNYA KITA

8 September 2010

Suka cita yang menyedihkan di hari raya

Hari raya idhul fitri atau yang saat ini lebih nge-tren disebut dengan kata lebaran, sebenarnya bukanlah hari yang saya nantikan atau saya dambakan, bahkan lebaran tersebut sebenarnya adalah hari yang sangat menyedihkan bagi saya. Bayangkan saja, bulan ramadhan bulan yang penuh berkah harus segera pergi dari kita setelah lebaran itu tiba. Dan mau tidak mau hal itu pasti terjadi dan harus dilalui dengan suka cita. Suka cita karena kita telah menang dalam perang menahan hawa nafsu selama sebulan (menurut kita), suka cita karena kembalinya kita seperti bayi lagi sesuai janji Allah (mungkin. Red: mungkin kita memang kembali seperti bayi, tetapi mungkin kita malah banyak dosa karena menyia-nyiakan ramadhan). Suka cita karena berkumpulnya kita dengan sanak saudara, dan suka cita suka cita lainnya yang sebenarnya tidak sebanding dengan kita meninggalkannya bulan ramadhan yang belum tentu bisa lagi kita temukan di tahun yang akan datang.

Lebaran oh lebaran…. Bingung saya dibuatnya, disatu sisi saya benar-benar sangat sedih menyambutnya dikarenakan kesalahan saya sendiri yang tidak dengan sungguh-sungguh memanfaatkan tiga puluh hari sebelumnya. Hari yang hati ini berkata sangat menyakitkan dikarenakan harus menyambut kemenangan dengan kekalahan yang sebenarnya. Tetapi disisi lainnya saya harus dituntut untuk bersuka cita karena memang seharusnya lebaran adalah hari yang bahagia.

Kesedihan dalam suka cita menyambut lebaran, begitu mungkin yang saya menyebutnya. Dan itu semua terjadi karena kesalahan, kelalaian, kesombongan, keangkuhan dan semua hal yang sudah merugikan saya yang semua terjadi karena memang keimanan saya yang sangat menyedihkan. Kesempatan yang diberikan Allah benar-benar telah saya sia-siakan.

Haruskah saya bahagia disaat hati ini menangis? Haruskah saya berpura-pura “menang” jika sebenarnya saya “kalah” telak? Ampuni saya ya Allah, ampuni “kemunafikan” yang saya lakukan. Akankah lebaran yang sebenarnya bisa saya dapatkan? Akankah lebaran tanpa kemunafikan bisa saya rasakan? Akankah “kemenangan” yang sesungguhnya bisa saya menangkan? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terucap dalam benak saya, dan jawabanya adalah “jika Allah masih memberi kesempatan kepada saya pada lebaran yang akan datang insya Allah saya pasti bisa mendapatkan kemenangan itu, tentunya dengan syarat saya harus memulai apa yang harusnya saya lakukan untuk mendapatkannya. Dan itu harus dimulai dari detik ini dan seterusnya tentunya dengan campur tangan Allah karena itu semua tidak akan pernah terjadi tanpa campur tangan NYA”. Allah maha segala-galanya, DIA yang mempunyai dunia dan seisinya, dan tentunya “lebaran” yang sesungguhnyapun adalah milik DIA. Hanya dengan mendekati-NYA kita akan mendapatkan lebaran sejati itu, hanya dengan meminta pada-NYA kita bisa merasakan lebaran yang sebenarnya. Jadi tunggu apalagi?? Bukankah jika kita mendekati Allah, DIA akan lebih mendekati kita? Bukankah jika kita meminta sama Allah, DIA akan mengabulkannya? Bagi para pembaca yang merasakan hal yang sama dengan saya, mari kita sama-sama mendekatkan diri ke Allah dan meminta pada-NYA supaya kita bisa merasakan lebaran yang sebenarnya ditahun-tahun mendatang. Semoga kita tergolong orang-orang yang berfikir dan beruntung. Amin.. Ya Allah, hanya kepada-Mulah kami berdo’a, hanya kepada-Mulah kami meminta, hanya kepada-Mulah kami berserah diri.

Ampuni kami ya Rabb, ampuni kami atas kelalaian kami menyia-nyiakan waktu yang telah ENGKAU berikan, ampuni kami yang selama ini jauh dari-Mu. Tingkatkanlah iman kami yang semakin lama justru semakin menipis ya Allah. Dekatkanlah kami dengan-MU ya Rabb. Kami mohon Allah, beri kami kesempatan untuk merasakan lebaran yang sesungguhnya ditahun-tahun mendatang. Jadikanlah kami menjadi lebih baik dari hari ini dan selalu memperbaiki diri.

Tulisan ini dibuat untuk memeriahkan acara lomba blog pesona muslim

7 September 2010

Yuk Kita koreksi diri sendiri.!!!!!!!

Seperti judul tulisan ini, saya ingin menghimbau kepada diri saya sendiri dan bagi yang membacanya untuk selalu koreksi diri, mari kita cari dulu kesalahan-kesalahan kita baru berlanjut ke kesalahan-kesalahan orang lain. Tapi saya yakin jika kita mau jujur dan benar-benar mau koreksi diri kita, tentunya kita akan malu untuk koreksi kesalahan-kesalahan orang lain karena gimana kita mau mengadili orang lain sedangkan diri kita sendiri aza masih jauh dari kebenaran. “munafik” begitulah kata yang tepat ditujukan untuk “manusia” (termasuk diri saya). Bisanya dan sukanya adalah mencari kesalahan-kesalahan orang lain, bisanya mengomentari apa yang dilakukan orang lain tanpa mau mencari kesalahan-kesalahn diri, bahkan kadang sudah tau salah masih tidak mau mengakui atau tidak mau tau malah.

Mudah-mudahan kata “munafik” yang terpatri untuk sebutan manusia itu bisa sedikit demi sedikit kita hilangkan dengan tidak salingnya kita mencari kesalahan sesamanya. Kalau perlu kita yang Tanya kepada orang lain dimana kesalahan kita untuk mengoreksi diri kita. Saya yakin itu belum banyak terjadi atau bahkan mungkin belum ada. Kebanyakan manusia sibuk dengan mencari kesalahan orang lain dan kemudian membuat vonis apakah orang itu baik atau tidak tanpa melihat  sisi lain orang yang dinilai. Dan selalu menganggap dirinya benar tanpa melihat sisi dirinya yang salah. Apakah itu adil? Apakah itu wajar? Sangat adil dan sangat wajar bagi yang menilai, tapi bagi yang divonis…. Hiks….hiks…. kasian sekali, kadang kalau kita sudah divonis “tidak baik”, maka kita merasa seperti tidak ada kesempatan untuk membenahi diri. Dan orang yang memvonis kita “tidak baik” juga tidak akan sedikitpun memberi kesempatan buat kita membenahi diri karena kita sudah dianggap “tidak baik”.

Sekali lagi saya himbau (termasuk kepada diri saya sendiri), mari kita temukan dulu kesalahan-kesalahan kita sebelum mencari kesalahan orang lain, mari kita vonis dan kita nilai dulu gimana diri kita sebelum kita menilai dan menvonis orang lain…. Mari kita bersibuk ria mencari dan memperbaiki kesalahan kita dan saya yakin seyakin-yakinnya jika kita bersibuk ria mencari dan memperbaiki kesalahan kita, maka sampai kapanpun kita tidak akan disibukkan dengan kesalahan orang lain karena kita tidak akan pernah selesai mencari dan memperbaiki kesalahan kita.

Ya Allah jadikan kami manusia yang bisa keluar dari belenggu “kemunafikan”.  Bimbing kami untuk tidak mengoreksi orang lain sebelum diri ini terkoreksi ya Rabb. Jadikan kami manusia yang jujur dan tidak pernah membohongi diri sendiri apalagi orang lain. kepadaMulah kami berserah ya Allah, kepadaMulah kami bermohon karena tanpa kehendakMu kami tidak bisa berbuat apa-apa.

6 September 2010

Proses atau hasil (2)

Alhamdulillah, pertanyaan tentang proses dan hasil akhirnya bisa juga terjawab setelah lama saya mencoba mencari jawabanya dan dibantu dengan komentar-komentar teman-teman blogger di proses atau hasil (1). Pada tulisan proses atau hasil yang pertama belum bisa memuaskan sama sekali, saya masih belum puas dengan tulisan saya, dan sekarang tulisan ini menindak lanjuti tulisan pertama. (ceile, menindaklanjutilah.hehehe). baru malam tadi saya dapat kata-kata yang bisa menjawab apakah proses atau hasil yang harus saya, kita, (manusia) kejar dan cari. Saya tetap pada pendirian saya kalau memanglah proses yang harus kita nomersatukan, proseslah yang harus kita banggakan, bukan hasil, seperti pada tulisan pertama, buat apa nilai tinggi kalau ternyata “nol puthul”. Mending nilai pas-pasan tapi otak “lumayan” betul tidak???

Buat apa juga hasil yang sempurna, hasil gemilang penuh penghargaan tapi dimata manusia, buat apa kita berbangga diri dengan hasil yang sangat sempurna tetapi dengan proses yang tidak diridhoi Allah? Tau ga, yang Allah nilai tu ternyata bukan hasil kita, tetapi proses yang kita lakukan. Allah ga pernah mau tahu tentang berapa banyak kita punya harta, tetapi Allah Cuma menilai bagaimana kita mendapatkan harta tersebut dan kemana kita mengeluarkan harta tersebut, Allah tidak pernah mau tau tentang berapa nilai kita dihadapan manusia, tetapi Allah hanya menilai gimana kita mendapatkan nilai itu. Allah tidak pernah mau tau tentang kerjaan kita, tetapi Allah Cuma menilai bagaimana kita bekerja dan bagaimana kita mendapatkan kerjaan tersbut. Sama sekali Allah tidak mau tau tentang apa yang kita hasilkan dari hidup ini, tapi Allah hanya mau tau tentang bagaimana hasil yang kita dapatkan itu kita peroleh. So???? Buat apa kita mengharapkan hasil yang sempurna jika sunatullahnya kita tinggalkan, buat apa kita mengejar hasil??? Biarlah hasil Allah yang tentukan, Biarlah hasil mengikuti proses yang kita lakukan, mari kita belajar dan berusaha selalu untuk membersihkan proses-proses yang kita lakukan dalam hidup, mari kita melakukan seperti yang Allah mau, kita tidak usah lagi memikirkan hasil yang akan kita dapatkan, yang penting mari kita melaksanakan proses yang sesuai dengan syar’i. tidak mungkin kita tetap lapar setelah kita makan, tidak mungkin kita haus setelah kita minum, tidak mungkin kita ngantuk setelah tidur dan tidak mungkin kita bisa dapatkan hal yang tidak sesuai dengan yang Allah mau jika kita ikuti sunatullah-Nya dan kita berusaha dengan cara-cara luar biasa sesuai kemampuan kita untuk mencapai ridho Allah. Biarlah hasil mengikuti, yang penting proses kita lakukan sebaik mungkin.

Jika kita selalu memikirkan hasil tanpa peduli prosesnya, misalkan yang penting kita dapat kerja walaupun caranya dengan “nembak” maka seumur hidup kita akan sangat merugi. Karena Allah tidak akan ridho dengan proses yang kita lakukan bukankah itu sama saja membunuh diri kita sendiri? Bukankah hidup yang sebenarnya adalah hidup setelah mati???

Proses yang diridhoi Allah yang harus kita kejar dan kita cari baik yang instan maupun yang lambat. Dan jika ingin proses instan tetapi tetap dalam ridho Allah cara yang tepat dilakukan adalah “ajak Allah” dalam setiap proses yang kita lakukan.

Terima kasih sekali lagi saya ucapkan buat teman-teman yang sudah mau menyumbangkan ilmunya untuk ikut ditulis pada postingan kali ini

Rabb beri petunjuk pada hamba untuk selalu sholat dan sabar, tawakal dan istiqamah dalam semua proses hidup yang saya jalani. Jadikan hidup setelah mati hamba dalam golongan orang-orang yang beriman. Jadikan sabar dan syukur pada hamba dalam menyikapi hasil yang Engkau berikan. Amin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.